Resensi Novel Draculesti

Resensi Novel Draculesti

Cover Novel Draculesti 2 (the battle)
“Aku tak sanggup melanjutkan, Nda… sungguh!”

Berulang kali kutarik nafas panjang dan menghembuskannya berlebihan. Jantungku berpacu lebih kencang dari biasanya. Pikiranku melayang entah kemana. Kututup novel itu, tepat di pertengahan. Wajahku memucat, berulang istighfar tapi tetap saja tak merubah perasaanku.

“Aku sungguh tak sanggup melanjutkan, Nda…” kalimat itu meluncur lagi.

Jemariku terkepal, gigi gerigiku beradu, wajah tertelungkup di atas bantal. Suamiku mengusap punggungku, dan iapun meletakkan buku yang tengah ia baca.

“Kenapa…?”

“Nicopolis terkepung, tak tega rasanya menyaksikan nasib rakyat Aryahovo yang berulang pada Nicopolis. Dua orang tentara sipahi tengah diutus oleh Hamed Bey (amir Nicopois) untuk minta bantuan. ya, melewati lorong gelap dan menakutkan itu. Aku ngeri... Seorang diutus kepada sultan Bayazid satunya lagi ke Fredagovic” hembusan nafas berat lagi-lagi berkelebat.

Tangisku meledak, kupeluk erat bantal yang ada di wajahku. Erat. Rapat. Rasanya tak ingin kulepaskan.

“Sudahlah… hentikan sejenak…”

Aku hanya mengangguk. Lagipula hari sudah pagi. Aku harus bergegas kepasar untuk membeli kebutuhan hari ini. Sebelum Naufa dan Naura terbangun.

Pagi itu sejuk sekali. Seperti suasana Nicopolis saat Hamed Bey melakukan patroli sekitar Nicopolis sebelum terjadi pengepungan. Kabut putih masih tampak menyelimuti langit Siwalankerto. Deru sepeda motor hilir mudik di jalan utama. Beberapa becak tampak tergesa mengantarkan aneka sayuran yang memenuhi sisi depannya. Udara dingin sedikit menusuk tulang. Sepagi ini Surabaya yang biasanya panas memang terasa lebih dingin suhunya.

Kuayunkan langkah menuju pasar Siwalankerto yang jaraknya hanya sekitar 500 meter dari kediamanku. Sembari membaca al-ma’tsurat pagi. Namun, bacaan kenapa mbulet disitu-situ saja. Tak ada akhirnya.

Desingan pedang.  Ringkikan kuda. Debu-debu yag mengepul. Belati yang tertancap. Kepala yang terpenggal. Mayat-mayat bergelimpangan. Kucuran darah. Ya Allah…

“Aku sungguh tak sanggup ya Allah…” bayangan itu muncul lagi. Setiap adegan, setiap babak, setiap episode, hingga detail peristiwa tergambar nyata di pelupuk mata. Air mataku kembali tumpah…

“Astaghfirullah… Astaghfirullah… Astaghfirullah”


*****


“Sarapan sudah siap, Nda…”

“Iya, sebentar lagi”

Kuselesaikan apa yang harus segera kuselesaikan. Masak, nyapu, ngepel, membuat susu untuk anak-anak,dan menyuapi mereka. Kubiarkan mereka bermain dengan buku-buku cerita bergambar. Naufa tengah asyik bercerita pada Naura tentang kisah Berry, beruang kutub yang belajar mandiri. Aku tersenyum melihat dua balita itu. Lucu. Meski belum bisa membaca, Naufa hafal sekali dialog setiap gambarnya.

"Hm... inilah kesempatanku untuk menuntaskan keingintahuanku". lirihku dalam hati. Bayangan ketakutan harus dihilangkan dengan membaca kelanjutannya. Agar tak menyesak di dada. Kuraih lagi sebuah novel yang tadi sempat kututup dengan pembatas.

“Allaaaahu Akbar…” pekik takbir tiba-tiba terucap. Serasa masiroh saja. Padahal aku sedang ada diruang baca. Hanya berukuran 3 x 4. Naufa dan Naura terkaget. Serentak keduanya melihatku…

“Bunda Kenapa…”

Subhanallah… gak papa Nak… Gak papa… akhirnya pasukan sultan Bayazid datang untuk mengusir para pecundang itu sayaaaang…”

“Terus…” cecar Naufa

“Sigismund dan Hunyadi melarikan diri, begitu juga dengan Mircea, Alexandru dan Vlad…” mataku berbinar, butir bening membasahi pipiku.

“Kenapa Bunda menangis…” Naufa segera beranjak duduk di pangkuanku, mengusap butiran bening itu.

“Bunda bahagia sayang… akhirnya kaum Muslimin mendapat pertolongan dari Allah… pasukan Islam menang”

“Alhamdulillah… ini adalah nikmat dari Allah, Bunda…”

Aku diam sekejap, membisu. Takjub dengan kalimat putri pertamaku. Usianya baru akan genap 4 tahun pada bulan maret yang akan datang. Subhanallah…

“Piringnya mana Bun…” suara suamiku memecah kebisuanku.

“Hm… gak ada ya, Nda?” aku balik bertanya. Aku segera bergegas ke asal suara.

Astaghfirullah… belum bunda cuci piring, Ayah…” Aku tersipu malu. Tadi sewaktu selesai masak, semua piring dan perabot masak kutumpuk dikamar mandi karena mau nyapu dan ngepel, setelahnya langsung menyambar novel untuk dituntaskan. Rupanya satu yang belum kurampungkan, cuci piring.


*****   

Setelah kuselesaikan membaca buku kumpulan cerpen karya mba Asma Nadia dengan tajuk Sakinah bersamamu. Aku beralih membaca dua novel karya mas Sayf Muhammad Isa dengan genre Fiksi Sejarah.

Dua Novel ini adalah “The Chronicles of Draculesti—The Destiny dan The Battle”. Dua buku ini baru dibeli suami sekitar sebulan yang lalu. Haaaa? sudah sebulan baru terbaca?

Ya, Tadinya aku males banget bacanya. tersebab gambar cover yang nggak feminim, pedang dan perang. Aku fikir, bacaan ini mah bukan untuk emak-emak. Novel ini khusus bapak-bapak, untuk bersiap jika sewaktu-waktu ada panggilan jihad.

Aku memang sengaja membatasi diri dengan bacaan seputar tema keluarga, parenting, pendidikan anak dll. karna itu semua memang berkaitan dengan tugas utamaku sebagai ummun wa rabbatul-bayt.

Namun ternyata dugaanku keliru. Di rak buku tak ada lagi buku fiksi yang bisa aku lahab setelah bukunya mba Asma Nadia kelar. Buku yang tersisa adalah buku-buku non fiksi yang agak berat. males deh. akhirnya kulirik juga kedua novel besutan mas Sayf ini.

Eh ternyata, setelah berlalu satu halaman, mataku tak mau berkejab dari novel ini. Mendebarkan sekaligus merindukan. Tak terasa, aku terus larut dalam kisah heroiknya.

Hingga ia merasuk dalam alam bawah sadarku, dalam pikiranku bahkan dalam mimpiku. Jujur kukatakan bahwa aku jatuh cinta dengan novel ini. Hingga aku termotifasi untuk membuat novel juga. Tapi genrenya bukan fiksi sejarah. Terlalu berat menurutku. Mungkin fiksi parenting kali ya. Berharap yang nulis novel the chronicles of draculesty mau menjadi guru Expertku. hehe...

Sayangnya, kisahnya bergantung. Sudah kuminta suamiku untuk membeli episode tiga nya, tapi katanya sedang habis dan sedang dalam proses cetak ulang. Yah... semoga saja dalam waktu dekat sudah ada.

Ketika membaca novel ini, aku seolah ada di kancah setiap episode. Pada saat-saat menegangkan, aku seperti ingin lari darinya. Aku tak sanggup. Entahlah... mungkin penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati) begitu dominan padaku sehingga bayangan kematian begitu mengerikan. Atau mungkin karena aku adalah seorang perempuan yang tak terbiasa dengan kekerasan. Hingga Allah dan rasul-Nya pun tak mewajibkan jihad atas kaum hawa. Entahlah...

Aku sungguh tak sanggup menghadapinya. Ya Allah... aku jadi membayangkan dengan apa yang terjadi di Suriah, Rohingya, Afrika dan belahan  negri Islam yang lain saat ini.

Saat ini, bukan di abad pertengahan, mereka dibantai, sebagaimana yang pernah terjadi di abad pertengahan yang lalu, di Andalusia, Anatolia, Drobogea, Aryahovo dll.

Bedanya, pada abad pertengahan ada khalifah sebagai junnah (perisai) yang akan melindungi harta, darah dan jiwa kaum muslimin. sementara saat ini, belum terwujud baiat perang untuk seorang kholifah.

Membaca novel ini, aku begitu merindukan tatanan kehidupan Islam. Tatanan kehidupan yang berlandaskan pada Iman. Ya Allah... Tatanan yang menjadikan pendeta dan kaum nasrani sebagai warga negara Khilafah pun rela mati untuk mempertahankan diri dan negara dari gempuran tentara salib. Tatanan kehidupan yang bisa menjadi representasi Islam Kaafah, sehingga mampu meng-islam-kan segenap penduduk negeri tanpa paksaan. Ya Allah... bilakah ya Allah...

Begitulah yang bisa aku kisahkan tentang novel ini. Aku merekomendasikan setiap pengemban dakwah untuk membaca novel ini. Semangat ideologis yang diusung mampu mengobarkan api kesungguhan dalam mengemban Islam sebagai tatanan kehidupan.

Oya, ada sedikit kesalahan penulisan peran di akhir babak. Ketika rombongan keluarga Mircea menuju ke Nuremberg. Coba diteliti lagi ya Mas Sayf Muhammad Isa.

'Ala kulli hal, kuucapkan selamat kepada mas Sayf sebagai penulis dan teruslah berkarya, semoga aku bisa segera menyusulmu menjadi penulis fiksi Islam Ideologis, hingga mampu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk kebangkitan ummat, agar keberadaanku di muka bumi ini tak sia-sia.

Tiap kita adalah tentara, saat perang pemikiran menyerang ummat, menghancurleburkan sendi-sendi peradaban Islam. Luluh lantak. Tinggal serpih demi serpih. Karenanya, jadilah seperti tentara sipahi atau tentara jenisari yang siap mati untuk perang peradaban ini, dan...

Pertempuran ini harus kita menangkan, takbir! Allahu Akbar...! 

Related

Menulis 3109153581402334645

Post a Comment

emo-but-icon

Tulisan Unggulan

Sebulan Bisa Hafal Satu Juz?

Hafalan Al-Qur'an Yuuuk Saya memulai jadwal tahfidz harian ba'da shubuh. Saat suasana masih sangat tenang, Goma masih lelap ...

Catatan Terbaru

item