Tafsir Surat At-Takaatsur Ayat 6-7

Tafsir Surat At-Takaatsur Ayat 6-7


Tafsir Surat At-Takaatsur ayat 6-7
لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ

Latarowunnal-jahim. "La" menurut para ulama merupakan harfu qosam (sumpah) demi Allah. "Tarowunna" pada kalimat ini terdapat tambahan huruf nun tauqid tsaqilah (nun yang berfungsi sebagai penguat/penegas yang sangat) artinya kalian sungguh akan melihat. "Al-jahiym" yaitu Neraka Jahim.

"Demi Allah, sungguh kalian akan melihat neraka jahim" ayat yang ke 6 ini mengabarkan bahwa kelak, masing-masing dari kita akan ditampakkan neraka jahim. semua orang akan melihatnya.

ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ

Tsumma Latarowunnaha 'aynal yaqin. "Tsumma" kemudian. "Laa" Demi Allah. "Tarowunna" sungguh kalian akan melihat. "Ha" nya yaitu neraka jahiym. "Aynal-yaqin" mata kepala yang meyakinkan.

"Kemudian, demi Allah, Sungguh kalian akan melihat neraka jahim itu dengan mata kepada sendiri yang sangat meyakinkan. Ibnu Qoyyim membagi yaqin (keyakinan) dalam 3 hal. pertama, 'Ilmul-yaqin yaitu pengetahuan yang dikabarkan oleh seseorang yang terpercaya sehingga menimbulkan keyakinan. Kedua, 'Aynul-yaqin yaitu keyakinan yang berasal dari pandangan langsung. Sementara yang terakhir adalah Haqqul-yaqin yaitu keyakinan yang berasal dari kenyataan yang langsung di alami.

Beliau (Ibnu Qoyyim rahimahullahu) menganalogikan dengan madu. Jika ada seseorang yang terpercaya memberitahu kepada kita tentang gambaran madu secara detail. Bahwa ada madu yang sangat manis. Madu itu berkhasiyat untuk berbagai macam penyakit. Maka, sekalipun kita belum melihatnya, kita akan percaya dan yaikin berdasarkan keterangan orang tersebut. Sebab kita sangat mempercayainya. Inilah 'ilmul yaqin.

Adapun 'aynul yaqin adalah melihat secara langsung madu yang digambarkan oleh orang yang terpercaya tadi. Melihat dengan mata kepala sendiri bentuknya warnanya dll. Sekalipun kita belum pernah merasakan madu tersebut, penglihatan itu akan menghantarkan pada keyakinan. Adapun jika kita telah merasakan manisnya, pekat dan kentalnya dengan cara meminum madu tersebut maka itulah haqqul-yaqin.

Pada tafsir sebelumnya yaitu surat at-Takaatsur ayat ke 5 digambarkan tentang 'ilmal-yaqin. Adapun pada ayat ke 6 dan 7 ini Allah kabarkan pada kita bahwa kelak, kita akan sampai pada tataran 'aynul yaqin sebelum benar-benar merasakannya. 

Seberapa Luaskah Neraka Jahim Itu?

Seperti apakah gambaran neraka jahim itu? mari kita sama-sama renungkan beberapa nash baik al-qur'an maupun hadits nabi saw. Dari Ibnu Mas’udz, Nabi n bersabda:

يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زَمَامٍ، مَعَ كُلِّ زَمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا

“Didatangkan neraka di hari itu, dalam keadaan ia memiliki 70.000 tali kekang, setiap tali kekang diseret 70.000 malaikat.” (HR. Muslim dan at-Tirmidzi)

Hadits ini menggambarkan tentang luasnya neraka jahim. dimana ia memiliki 70.000 tali kekang, setiap tali di tarik oleh 70.000 malaikat. berarti jumlah malaikat yang menyeret neraka jahim totalnya adalah 70.000 x 70.000 = 4.900.000.000 malaikat atau 4.9 milyar.


Masyaallah... sebegitu luasnya neraka jahim hingga setiap kali di lemparkan seorang ahli neraka, maka neraka itu berseru "Hal min mazid, hal min mazid" apakah masih ada tambahan lagi? dalam bahasa kita "Kurang... Kurang... masih banyak space yang koyong..." Nabi saw bersabda:

لَا تَزَالُ جَهَنَّمُ {تَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ} حَتَّى يَضَعَ رَبُّ الْعِزَّةِ فِيهَا قَدَمَهُ فَتَقُولُ قَطْ قَطْ

“Senantiasa ke dalam Jahannam itu dicampakkan dan dilempari dengan penghuninya (penghuni neraka), tetapi Jahannam itu selalu mengatakan: ‘Apakah masih ada tambahan ya Allahh?’ Dan terus-menerus tidak pernah penuh sampai dengan Allah meletakkan kaki-Nya, lalu Jahannam mengatakan:  ‘Cukup, cukup’.”( HR. Muslim no: 7256, Al Bukhary no: 6661 dan At Turmudzy no: 3272)

Allah ta'ala berfirman:

يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِن مَّزِيدٍ

“(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada Jahannam: “Apakah kamu sudah penuh?” Dia menjawab: “Masih adakah tambahan?” (Qoof : 30)

Maksudnya, Neraka Jahannam itu tidak pernah akan penuh kecuali jika Allah ta'ala meletakkan kaki-Nya ke dalamnya. itu menunjukkan bahwa neraka itu luas sekali.

Gambaran Penduduk Neraka 


هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ

“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.” (QS. Al-Hajj: 19)

Para penghuni neraka akan dikenakan untuk mereka pakaian dari aspal yang lalu dibakar dengan api neraka . Tidak cukup itu saja, al-hamim (air yang sedang mendidih dan sangat panas) akan disiramkan ke atas kepala mereka, kita berlindung kepada Allah dari menjadi ahli neraka!

Kita bisa bayangkan, kalau saja kita diletakkan pada satu tempat, lalu dari atas turun setetes demi setetes air dalam jangka waktu tertentu, sehari, seminggu, sebulan. Setiap detik air menetes dan mengenai kepala kita. Apa yang akan terjadi? Kita akan tersiksa dengan sendirinya dan bisa menjadi gila, lalu bagimana kalau yang disiramkan itu adalah air mendidih neraka yang panasnya berlipat-lipat dari panasnya dunia.

Kemudian Allah melanjutkan,
يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ

“Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka).” (QS. Al-Hajj: 20)

Betapa dahsyatnya panas air tersebut. Saat disiramkan di atas kepala, maka air tersebut akan menghancurkan isi perut; daging, lemak, dan ususnya. Yakni isi perutnya meleleh karena panasnya air neraka yang mendidih tersebut. Sehinggapun kulit mereka juga meleleh.

Na'udzubillahi mindzalika ya Allah. Kita memohon keselamatan kepada Allah dari beratnya siksa neraka.

Selanjutnya Allah berfirman,
وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ

“Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi.” (QS. Al-Hajj: 21) Maqami’ itu semacam palu atau martil dari besi yang dipukulkan ke kepala mereka. Maka ketika mereka hendak keluar dari neraka, dipukulkan martil-martil tersebut di atas kepala mereka supaya siksa tidak terputus dari mereka. “Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan): "Rasailah adzab yang membakar ini".” (QS. Al-Hajj: 22)

Tidak cukup hanya disiramkan ke atas kepala mereka, namun al-hamim (air neraka yang sedang mendidih dan sangat panas) tersebut diminumkan kepada mereka sehingga usus-usus mereka terpotong-potong, tercabik-cabik dan hancur berantakan.

Ya Allah, jauhkan kami dari siksa neraka!.

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ

“Sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. Muhammad: 15)

Sesungguhnya panasnya api neraka Jahannam tidak tertandingi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengabarkan, panasnya lebih dari 70 kali dari panasnya api dunia yang paling panas.

Satu contoh permisalah yang tak mungkin bisa menyamai dengan neraka. Seandainya kita dipaksa meminum secangkir kopi atau teh yang sedang mendidih dengan segera, apa yang akan terjadi? Lidah dan mulut kita akan melepuh, dan boleh jadi usus kita juga akan meradang dan putus. Lalu bagaimana kalau yang diminumkan adalah air neraka yang sedang mendidih dan memiliki panas yang tak terhingga.

“Orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” Coba bayangkan keadaan ahli neraka yang dijelaskan ayat ini! karenanya benar-lah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, “Kalau kalian tahu apa yang aku ketahui, pasti kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” Masalahnya, kita tidak mengetahui sebagaimana yang diketahui oleh beliau shallallahu 'alaihi wasallam.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menggambarkan tentang tikar dan selimut ahli neraka,

لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ

“Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka).” (QS. Al-A’raf: 41)

Dari bawah penghuni neraka ada tikar yang terbuat dari api neraka, sedangkan dari atasnya mereka diselimuti dengan selimut dari neraka juga. Dari sini, dapat kita padukan dengan ayat-ayat yang lain, bahwa para penghuni neraka akan dipakaikan baju dari aspal neraka yang lalu dibakar, tikar dari neraka, selimut dari neraka, dan juga cambuk (martil) dari besi.

Pada ayat lain, Allah Ta’ala menyebutkan tentang angan-angan para penghuni neraka, yaitu kematian. Mereka ingin sekali mati sehingga tidak merasakan adzab neraka yang maha dashsyat. Hal ini sebanding dengan angan-angan mereka di dunia, yaitu mereka berangan dan berhayal dapat hidup seribu tahun atau lebih. Mereka sangat cinta kepada kehidupan dunia. Sedangkan di akhriat mereka sangat-sangat berharap bisa mati. Kita berlindung kepada Allah dari menjadi bagian orang-orang kafir.
وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا

“Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahanam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka adzabnya.” (QS. Faathir: 36)

Yakni, dia tidak mati dan tidak akan diringankan adzabnya. Berbeda dengan siksa manusia di dunia, berapa tahun dan seberapa hebat mereka menyiksa sesama manusia? Penyiksanya bisa bertahan menyiksa paling hanya satu atau dua jam secara berturut-turut lalu istirahat. Pun dia masih butuh makan, minum, buang air dan kebutuhan lainnya sehingga siksa akan berkurang atau dihentikan sementara. Dan ujung dari siksaannya adalah kematian.

Sedangkan di neraka, adzab tidak akan dihentikan barang sejenak, karena yang menyiksa adalah para malaikat yang sudah Allah bekali dengan kekuatan luar bisa dan sangat menyeramkan. Mereka tidak mengenal lelah atau capek sehingga tidak ada istirahat dari siksa bagi penghuni neraka. Setiap detik, setiap menit dan setiap jam penghuni neraka disiksa tanpa henti dan mereka tidak bisa mati.

“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan adzab.” (QS. Al-Nisa’: 56)
وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ

“Mereka berseru: "Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja".” (QS. Al-zukhruf: 77)

Maka Malikat Malik menjawab, "Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini). Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu.” (QS. Al-Zukhruf: 77-78)

Sesungguhnya siksa neraka jahannam tidak bisa dibayangkan. Kedahsyatannya melebihi dari setiap gambaran manusia tentang berat dan dahsyatnya siksa,

“Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya,” (QS. Al-Fajr: 25).

Maka bagi setiap mukmin agar merenungi ayat-ayat tersebut dan sering membaca keterangan-keterangan tentang neraka, agar hati ini takut dan khawatir terhadapnya. Sehingga dia akan bertakwa kepada Allah dan menjauhi segala laranganNya. sebagai individu muslim, sebagai pemimpin rakyat. hendaknya kita takut kepada Allah. Dengan menerapkan Syari'at Allah secara totalitas dalam bermasyarakat dan bernegara sehingga kita terhindar dari adzab neraka jahim yang sangat pedih.

Sesungguhnya masih banyak ayat lain yang menceritakan tentang kengerian dan dahsyatnya siksa neraka.

Ya Allah kami berlindung kepada-Mu dari siksa neraka dan segala hal yang bisa mendekatkan kepadanya dari perkataan dan perbuatan. Ya Allah peliharalah kami dari siksa neraka, sungguh kami tidak sanggup menahannya dan kuasa menjalaninya. Amin, ya Rabbal a’lamin!

Dengan memahami tafsir surat at-Takaatsur ayat ke 6-7 ini, kita berharap tidak tergolong kepada orang-orang yang lalai sebagaimana yang sudah kita pahami pada tafsir surat At-takaatsur ayat 1 dan 2. Setiap orang yang lalai di dunia ini, baik dengan kekufuran maupun perbuatan maksiat lainnya akan dilanda gulungan penyesalan, dan akan meminta dikembalikan ke dunia meski sejenak saja, untuk menjadi orang yang insan muslim yang sholeh.

Namun kesempatan untuk itu sudah hilang, tidak mungkin disusul lagi. Jadi, persiapan harus dilakukan sejak dini dengan tetap memohon agar kita semua diwafatkan dalam keadaan memegang agama Allah, ada dibarisan pejuang kalimatullah. Ya Allah aku memohon kepada Engkau agar mempertemukan akhir dari kehidupanku dengan kesyahidan. Aaaminn...
Allahu a'lamu bish-showab.
Penilaian: 

Related

Dakwah 2046135290481511195

Post a Comment

emo-but-icon

Ikuti Saya di Google+

Tulisan Unggulan

Sebulan Bisa Hafal Satu Juz?

Hafalan Al-Qur'an Yuuuk Saya memulai jadwal tahfidz harian ba'da shubuh. Saat suasana masih sangat tenang, Goma masih lelap ...

Catatan Terbaru

item