Tafsir Surat At-Takaatsur Ayat 8

Tafsir Surat At-Takaatsur Ayat 8

Tafsir Surat At-Takaatsur Ayat 8
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

"Tsumma" kemudian. "Latus-alunna" sungguh engkau benar-benar akan ditanya. "Yaumaidzin" pada hari itu. "'An" dari. "Na'iim" Nikmat-nikmat.

"Tsumma latus-alunna yaumaidzin 'anin-na'iim" kemudian sungguh engkau benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan-kenikmatan.

Pada pembahasan terdahulu yaitu surat at-takatsur ayat 1 sampai 7 Allah gambarkan perilaku sebagian orang yang lalai. Sebab kelalaiannya adalah berbanyak-banyak sekaligus berbangga-bangga (at-takaatsur). Baik dalam hal harta, jabatan, anak, ilmu dan lain-lain. Maka pada penutup surat ini Allah menegaskan bahwa setiap kenikmatan yang kita nikmati di dunia ini, nanti pada hari kiamat akan ada pertanggung jawabannya. Seolah-olah Allah ingin menyindir kita, lalu apa yang akan engkau bangga-banggakan dengan berlomba-lomba memperbanyak harta wahai manusia? padahal semua yang engkau miliki akan dipertanggung jawabkan itu kelak di yaumil hisab.

"Tsumma latus-alunna yaumaidzin 'anin-na'iim" kemudian sungguh engkau benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan-kenikmatan.

Oleh karena itu, kita harus menyiapkan jawabannya sejak hari ini. Ali bin Abi Tholib pernah berkata: "Beramal! Perbanyaklah beramal! "...fa innal-yauma 'amalun bilaa hisaab wa ghadan hisaabun wa laa 'amaal" Karna pada hari ini (di dunia) waktunya beramal tidak ada hisab, sementara esok (diakhirat) ada hisab namun tidak ada amal.

لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن عمره فيما أفناه وعن علمه فيما فعل به و عن ماله من أين اكتسبه وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ وعن جسمه فيما أبلاه

”Tidak bergeser kaki kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga ditanya tentang empat perkara. Tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya bagaimana dia amalkan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan dan tentang tubuhnya bagaimana dia memanfaatkanya.” (HR. at-Tirmidzi)

Apa yang kita patut banggakan?


Jika semua itu justru akan dipertanggung jawabkan? lantas apa sebenarnya yang layak kita banggakan? kelak, pada hari kiamat masing-masingdari kita akan ditanya. Ditanya tentang apa?

Pertama, tentang usia kita. Kita pakai untuk apakah usia yang telah kita miliki? apakah usia kita dipakai untuk mempelajari Islam sehingga kita memahami Islam dengan baik. Apakah dipakai untuk beramal sholeh. apakah untuk berdakwah? atau sebaliknya? untuk bermaksiyat kepada Allah, untuk menentang agama Allah? untuk berghibah dan lain sebagainya. Na'udzubillahi mindzalik.

Kedua, tentang ilmu yang kita miliki apa yang telah kita amalkan dari ilmu tersebut. Sehingga ilmu yang kita miliki tidak hanya berdiam di dalam benak dan hafalan kita. Namun ilmu tersebut terealisasi dalam perbuatan kita. Dalam amal shalih kita. Atau malah ilmu yang kita miliki kita pakai untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Na'udzubillah tsumma Na'udzubillah.

Ketiga, tentang harta yang dimiliki darimana didapatkan dan untuk apa dibelanjakan? inilah yang menjadikan orang kaya terlambat masuk surga. Karena setiap sen yang kita miliki akan ditanya darimana dapatnya dalam rangka apa dibelanjakannya?

Abdul Rahman bin 'Auf pernah mendengar Rasulullah saw bersabda kepadanya pada suatu hari:

يَا ابْنَ عَوْفٍ، إِنَّكَ مِنَ اْلأَغْنِيَاءِ، وَإِنَّكَ سَتَدْخُلُ الْجَنَّةَ حَبْوًا، فَأَقْرِضِ اللهَ يُطْلِقْ لَكَ قَدَمَيْكَ

"Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya kamu termasuk kaum yang kaya raya, dan kamu akan masuk surga dengan merangkak. Oleh karena itu, pinjamkanlah suatu pinjaman kepada Allah sehingga Allah membebaskan kedua telapak kakimu." (HR. al-Hakim)

Keempat, tentang tubuhnya dipakai untuk apa. Sebagaimana Allah berfirman:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung-jawabannya (al-Israa':36)

Mata, akan ditanya untuk apa digunakan? lebih sering kita gunakan untuk melihat aurat yang tidak halal atau untuk mentadabburi alqur'an? Telinga, lebih sering dipakai untuk mendengar pengajian atau malah sering dipakai untuk mendengarkan gosip?

Sungguh berat hidup di era sekuler-liberal seperti sekarang ini. karna seorang mukmin dipaksa untuk berada pada kemaksiyatan semesta. bagaimana tidak, karena hukum Islam tidak diterapkan dalam ranah sosial, dalam ranah interaksi laki-laki dan wanita, maka aurat bertebar dimana-mana. telinga kita terbiasa dengan gosip sistemik. seperti ikan yang hidup di padang pasir.

Ya, sistem hidup demokrasi memang bukan habitat alami kaum muslimin. Disinilah urgensi perjuangan penerapan syari'at Islam. agar kaum muslimin selamat dari kemaksiyatan semesta yang akan memberatkan perhitungan amal kelak di yaumil kiamat.   

Sudah siapkah diri kita menjawab setiap pertanyaan yang akan ditanyakan Allah? kalau kita tidak siap menjawab pertanyaan-pertanyaan itu maka kita harus bersiap-siap untuk terjebak macet.

Umar bin Khottob berkata: "Haasibuw anfusakum qobla an tuhaasabuw" hisablah amal kalian, sebelum kelak dihitung oleh Allah swt. Allahummaghfirlaanaa dzunuwbana...
"Latus-alunna" sungguh engkau benar-benar akan ditanya. Siapakah yang ditanya? Apakah orang kafir atau orang mukmin? kalau orang kafir yang ditanya bukankah mereka memang sudah di siapkan neraka jahim sebagai tempat kembali? bila yang ditanya orang mukmin, bukankah mereka telah disediakan surga sebagai sebaik-baiknya tempat kembali?

Para ulama berbeda pendapat. Ada yang menafsirkan kata ganti "engkau" dalam ayat ini adalah orang kafir. Ada pula yang menafsirkan kata ganti "engkau" adalah semua, baik orang mukmin maupun orang kafir.

Pendapat yang terkuat adalah pendapat yang kedua. Karna redaksi ayat ini sifatnya umum. Perbedaannya adalah pada motif pertanyaannya.

Kalau orang kafir ditanya dalam rangka mengecam dan mencela perbuatannya. Kamu sudah diberi waktu, diberi akal, diberi kecerdasan tapi kok tidak dipakai untuk membedakan yang haq dan yang batil? Kenapa? Pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban, karena pertanyaan ini merupakan adzab yang bersifat pshikis. Penyesalan yang sangat atas orang-orang kafir kenapa tidak beriman, kenapa tidak beramal shalih, kenapa tidak taat kepada. Bahkan mereka durhaka kepada Allah dengan mendustakan ayat-ayat Allah, tidak berhukum dengan hukum Allah.

Sementara orang beriman juga akan ditanya oleh Allah. Pertanyaan ini dalam rangka mereview sekaligus memberi kabar gembira. Bahwa dahulu semasa di dunia Allah telah anugrahi kepada mereka begitu banyak nikmat, dan sebentar lagi Allah akan berikan kenikmatan yang jauh lebih besar lagi diatas semua kenikmatan yang pernah mereka kecap selama hidup di dunia.

Nikmat apa yang akan ditanya? Nikmat apapun hingga yang paling remeh sekalipun. Lalu apa yang akan ditanyakan atas nikmat-nikmat tersebut? Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa pertanyaan atas nikmat tersebut adalah apakah kita telah bersyukur atau justru kufur nikmat.

Wallahu a'lam bish-showab


Penilaian: 

Related

Dakwah 2549833467299872892

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Saya di Google+

Tulisan Unggulan

Sebulan Bisa Hafal Satu Juz?

Hafalan Al-Qur'an Yuuuk Saya memulai jadwal tahfidz harian ba'da shubuh. Saat suasana masih sangat tenang, Goma masih lelap ...

Catatan Terbaru

item