Perang Dingin

Perang Dingin

Sambungan terakhir dari kisah sebelumnya yang berjudul Berantakan. Selamat menikmati :)

Suara adzan menggema di seantero kota. Bersahut-sahutan. Memanggil-manggil yang tengah sibuk di alam fana. Agar sejenak menghadap rabb semesta.

Senja mulai berpamitan. Meninggalkan jejak kabut jingga kemerahan yang segera jua menghilang. Terganti dengan gulita. Semakin pekat semakin tampak. Bintang gemintang di singgasana angkasa. Menyaksikan penduduk bumi, terlelap dalam mimpi atau menangis karena duka.

Ardy urung mandi. Tak ada handuk yang bisa ia pakai mengelap badannya yang basah nanti. Pikirannya kacau. Lelah bercampur marah. Kesal bercampur sesal. Ia masih diam. Berhenti dari ceracau meski hatinya masih galau. Lemari pakayan terbuka. Isinya jauh dari menyedapkan mata. Pakayan bertumpuk-tumpuk belum disetrika.

Diambilnya sebuah celana sport panjang dan sebuah kaus oblong. Kusut. Seperti pikirannya. Bergegas ia kenakan. Suara tangis Tiara yang sesengukan tak ia hiraukan. Pintu depan berdebam keras. Begitu juga pintu gerbang beradu. Menandakan Ardy telah melaju tanpa motor.

Tiara menghentikan tangisnya, ia segera memeluk Haidar erat. Haidar digendong sambil disusui. Syair shalawat nabi terlantun lembut sekali. Sayup-sayup nan lembut. Membuat Haidar kian terkantuk. Matanya menyerah. Dalam beberapa saat saja, Haidar sudah lelap dalam mimpi indah.

Tiara segera membersihkan Dipan dengan sapu lidi. Disapunya perlahan. Agar Haidar tak terbangun. Setelah dirasa bersih, Tiara meletakkan haidar diatas bantal diapit dua guling mungil disisi kanan dan kirinya. Tiara segera melepaskan gendongan dan beranjak memasang kelambu. Agar nyamuk tak menyentuh Haidar.

Matanya sembab. Hidungnya berair. Wajahnya menyiratkan kelelahan yang sangat. Hatinya pedih. Kalimat-kalimat Ardy menari-nari dalam benaknya. Menusuk hatinya. Menorehkan luka.

“Apa-apaan ini”

“kenapa seberantakan ini?”

“Ngapain aja seharian?”

“Bukankah Istri itu Rabbatul-bayt!”

“Kenapa pula cari kambing hitam?”

“Alasan!”

“Beginikah Istri shalihah itu”

Tangis itu kembali pecah. Tiara terduduk di samping dipan. Bersandar pada kayu jati berukir itu. Kakinya dilipat ke dada. Wajahnya tertutup kedua telapak tangannya. Suaranya sesengukan. Ia masih tidak dapat percaya. Ardy tega menyakitinya. Ya, lelaki kebanggan yang telah menjadi imamnya. Lagi-lagi kalimat demi kalimat Ardy hilang timbul di benak. Tiara semakin larut dalam kesedihan.

Tiba-tiba bayangan Mamanya muncul. Ingin rasanya Tiara memeluk mama. Mama yang telah melahirkan, membesarkan, dan mendidiknya hingga sebesar ini. Kerinduan menyeruak kuat sekali. Ingin sekali ia bercerita perih hati kepadanya. Mama selalu bisa mengerti dan berempati padanya.

“Mama, aku rindu…” desisnya perlahan. Tiara terkulai, matanya yang lelah karena menangis tertutup. Ia tertidur dengan segenap lara jiwa dan letih raga.

Ardy melangkahkan kaki. Masjid menjadi tujuannya. Namun, ia menyadari betapa lengket kulitnya tersebab belum mandi. Masjid Baitur-Rahman ada di seberang jalan Gunung Anyar Lor. Jaraknya sekitar  200 meter dari rumahnya.

Gulita malam tak menyurutkan keramaian kota Pahlawan. Kendaraan hilir mudik tak putus-putus. Sejak jam 4 sore hingga jam 8 malam jalanan manapun pasti akan seramai itu. Para pekerja yang berdomisili di Sidoarjo biasanya memang akan melintasi jalanan tersebut. Menghindari kemacetan jalan utama. Sayangnya, semua orang berpikiran sama, jadi jalan kecilpun tak ubahnya jalan utama, macet.

Ardy urung menyebrang, ia berbelok ke kiri jalan, menyusurinya dan berhenti di depan sebuah mini market. Kakinya melangkah dan segera menuju rak paling belakang. Dipilah-pilahnya handuk kecil yang biasa dipakai untuk wash lap, setelah memilih sebuah wash lap, ia berjalan menuju rak sabun. Dipilihnya sabun mandi.

“Berapa mbak…” Tanya Ardy pada seorang kasir sembari mengeluarkan uang dari sakunya.

“Rp. 8.700, permen karetnya nggak sekalian, Mas” Tanya kasir perempuan itu agak genit.

“Oh… saya nggak makan permen karet, mbak” jawabnya polos.

“Bukan permen karet itu, Mas. Ini lhoooo…” tingkah kasir itu semakin genit sambil menunjukkan sebuah kotak bergambar lelaki dan perempuan berpose aduhai.

“Bisa dicicipi bareng pacar lho…” senyumnya kian menggoda.

“Maaf mbak, saya nggak punya pacar. Saya sudah beristri, punya anak satu. Lagi pula begituan sama pacar itu haram, mbak. Itu berzina namanya!” ketus Ardy tidak suka.

Kasir itu diam. Ardy memberikan selembar kertas sepuluh ribuan.

“Ini kembaliannya, Mas…” Rp. 1.300 dan struk pembayaran diberikan kasir dengan agak grogi.

“Lain kali, jangan mau disuruh kampanye kemaksiyatan, mbak… bisa ikut kecipratan dosanya…”

“I-iya…, Mas” Ardi melangkah keluar.  Berulang ia menghela nafas panjang. Masyarakat yang rusak. Budaya yang merusak, kenapa terus dipertahankan. Sekelebat bayangan Tiara muncul. Isakannya terdengar pilu. Ada rasa sesal yang menjalar setelah pertengkaran tadi.

Setelah mandi di Masjid Baitur-rahman, Ardy bergegas masuk masjid untuk shalat maghrib. Wash lap dan sabun ia tinggalkan di kamar mandi masjid dalam kantung kresek. Tergantung di belakang pintu kamar mandi. Para jama’ah shalat satu persatu keluar dari masjid.

Ardy menengok sekitarnya, berharap masih ada yang bisa diajak shalat berjama’ah. Namun ia tak menemukan apa yang ia cari. Ada sih beberapa yang masih berdiri, namun tampaknya mereka menunaikan shalat sunnah ba’da maghrib.

Ardy mengambil tempat di pojok bagian depan. Badannya yang segar terasa agak dingin tertiup sepoi-sepoi kipas angin. Kakinya menjejak sajadah permadani yang bersih dan harum. Kontras sekali dengan karpet hijau di rumah yang kotor dan bau pesing. Belum lagi lantai yang lengket.

“Indahnya shalat di masjid…” Gumamnya. Ardy mengawali shalatnya dengan takbiratul ihram.

“Allaaaahu Akbar” tangannya terangkat sejajar daun telinga. Lalu menyedekapkannya di dada. Dan iapun hanyut dalam munajat seorang hamba.

“Assalaamu’alaykum warahmatullah…” wajahnya menoleh ke kanan. Wajah Tiara berkelebat.

“Assalamu’alaykum warahmatullah…” Ardy menolehkan wajahnya ke kiri. Lagi-lagi bayangan Tiara muncul.

“Astaghfirullah… astaghfirullah… Astaghfirullah…” dada Ardy berdesir. Ada gelisah yang tumbuh. Penyesalan atas ucapannya pada Tiara senja tadi. Tiara yang terisak,dengan kalimat penuh emosi.

“Ini semua salah Abi!”

“Kenapa tak belikan umi mesin cuci…”

“Tapikan Istri bukan Babu”

Kalimat-kalimat Tiara bergelantung di kepala Ardy. Hilang timbul silih berganti. Ardy begitu menyesal. Kenapa ia sangat emosi pada Tiara semata karna ia belum membereskan rumah.

“Astaghfirullah… Astaghfirullah… Astaghfirullah…” dzikirnya terus terucap demi menghilangkan gundah yang mencekat.

Ardy membuka pintu gerbang, masuk perlahan agar gesekan besi tak menimbulkan suara keributan. Tak seperti biasanya. Lampu di teras belum menyala. Begitu juga lampu ruang tamu. Hanya ada sedikit cahaya tersorot dari kamar Haidar.

Ardy baru masuk rumah pukul 20.00 itupun karena dibangunkan pengurus masjid. Rupanya ba’da shalat Isya, Ardy tertidur. Syukurlah ia tidak terkunci dalam masjid.

Rumah tidak terkunci. Setelah salam iapun masuk, menghidupkan lampu ruang tamu. Ia baru menyadari teryata tak ada lagi karpet hijau yang biasa membentang di sana. Ardy bergegas ke kamar Haidar. Rupanya karpet hijau bersandar di pojok dekat dipan. Sebelahnya sebuah kresek besar berisi mainan putranya. Sisi kananya buku-buku yang bertumpuk. Tiara tertidur di sisi kanan dipan jati itu. Tubuhnya meringkuk. Wajahnya lelah. Satu tangannya menyangga kepala sedang satunya lagi menutup matanya. Ardy memandangi Tiara yang tertidur tanpa alas.

“Teganya dirimu Ardy, Lihat dia! istrimu… yang telah mengandung, melahirkan dan  merawat putramu…” rutuknya dalam hati.

“Bukankah ia sudah mengabdi padamu hampir 3 tahun ini, kenapa hanya kesalahan kecil saja membuat kau begitu murka”

“lihat dia! Bahkan dirinya sendiripun tak terawat, sebab terlalu sibuk mengurusmu, anakmu, rumahmu…”

“benar kata Tiara, seharusnya kaulah yang layak dipersalahkan, kenapa tak memberinya fasilitas untuk meringankan pekerjaannya”

“kenapa tak membayar asisten untuk membantunya” Ardy sungguh sangat menyesal. Ia merutuki dirinya sendiri.

Tangan kanan Ardy mengangkat kepala Tiara, tangan kiri mengangkat bagian kaki. Ardipun menggendong Tiara bermaksud memindahkan Tiara ke kamar tidur mereka. Tiba di ruang makan Tiara melonjak dan berteriak.

“Maling… Maling!” buru-buru Ardi menutupkan telapak tangannya ke mulut Tiara.

“Le-pas-kan… le-pas-kan” Tiara meronta-ronta.

“Sst… ssst… Ini abi… Ini Abi…” Ardy mencoba menenangkan. Tiara memandang wajah Ardy. Iapun segera tenang.

Tiara beranjak ke kamar tidur mereka. Ia uduk di tepi ranjang. Tiba-tiba tangisnya pecah lagi. Ia tersedu-sedu. Ardy menghampiri Tiara. Duduk menyebelahi Tiara. Satu tangannya menggenggam jemari Tiara. Tangan yang lain menghapus butir bening yang terus mengalir di pipi istrinya.

“Maafkan abi, Umi…” Ardi menarik nafas panjang. Tiara sudah agak tenang. Ia menunduk namun butir bening tetap mengalir.

“Abi tadi emosi, setan telah mendominasi pikiran abi. Harusnya abi diam saat marah”

“Sedang ada masalah di kantor…”

“Umi benar! Abi yang salah… maafkan abi ya…” Tiara mengangguk. Baginya permintaan maaf suaminya telah menghapus luka hatinya. Tapi ia masih diam.

“Umi masih marah…?” Ardy memandang wajah Tiara. Tiara menggeleng

“Beneran…?”  Ardy memastikan.

“Besok, abi janji bantuin umi beresan sebelum berangkat ke kantor”

“Janji?” Tiara sumringah.

“Janji” Ardi manunjukkan telunjuk kanannya ke atas. Ardy mendekatkan wajahnya ke wajah Tiara. Tangan Tiara sontak mencubit perut Ardy.

“Aduuuuh…” Ardy meringis.

“Kenapa...”

“Bau tau, Bi… belum sikat gigi ya…”

“Hehe… iya. Tadi uangnya gak cukup untuk beli sikat gigi sama pasta gigi. Cuma bawa uang Rp. 10.000. jadi cuma beli wash lap sama sabun aja. Nyisa Rp.1300. Nih...” Ardi nyengir sambil menyerahkan uang sisa ke Tiara.

“Lho, emang abi mandi dimana?”

“Di masjid…”

“Trus wash lap sama sabunnya mana?”

“Ya Allah… ketinggalan di masjid umi…” Ardy menepuk keningnya.

“Umi sudah shalat?”

“Lagi gak shalat… ini hari pertama haid makanya badannya lemes. Gak bisa ngapa-ngapain. Tadi semua perabot di tumpuk di kamar mandi karna ibu mau datang. Rupanya nggak jadi”

“Yaaah nunggu dong” keluh Ardy

“Nunggu apaan?”

“E-e-nggak… “ Ardy garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.

Senyum Tiara mengembang. Ia sandarkan kepalanya di pundak Ardy. Kakinya berayun ke depan ke belakang.  Ardy mengusap-usap kepala Tiara penuh sayang.

“Maaf ya sayang… umi belum bisa jadi istri shalehah untuk abi, rumah masih sering berantakan”

“Abi yang minta maaf… belum bisa maksimal membahagian umi”

“hehe… lucu ya, kita saling minta maaf, sebenarnya yang salah siapa ya”

“Gak ada yang salah gak ada yang bener…”

“Lho kok gitu. Mesti ada yang salah lah, abi…”

“Kita memang sedang berproses untuk jadi lebih dewasa” Ardy mengecup kening Tiara

“Doain umi ya, Bi… supaya bisa cepat proses berbenahnya…”

“Doain abi juga, biar bisa jadi kepala keluarga yang baik”

“Abi, kita kalo marah diem aja yuk… pokoknya kalo kita diem-dieman berarti lagi marahan. Biar Haidar gak dengar dan lihat kita sedang marahan, umi baca buku perkembangan anak, katanya kalo orang tua lagi marah jangan di depan anak-anak, bisa merusak mental anak”

“O gitu… jadi perang dingin dong…”

“He-eh” Tiara mengangguk.

“Ada masalah di kantor, Bi?”

“Iya… akan ada pengurangan karyawan bulan depan. Semoga abi tidak termasuk ya…”

Ardy dan Tiara ngobrol sampai larut malam, sembari membereskan kamar mandi yang berantakan.



Related

Menulis 4436347518566745263

Post a Comment

emo-but-icon

Tulisan Unggulan

Sebulan Bisa Hafal Satu Juz?

Hafalan Al-Qur'an Yuuuk Saya memulai jadwal tahfidz harian ba'da shubuh. Saat suasana masih sangat tenang, Goma masih lelap ...

Catatan Terbaru

item