Boros

Boros

Kabut pagi masih menyelimuti langit. Udara segar dingin menusuk tulang. Butiran embun jatuh satu dua di sela-sela dedaunan. Beberapa burung berkicau mengawal hari dengan tawakkal. Menjemput rizki yang telah Dia tetapkan.

Seorang lelaki paruh baya memarkirkan motornya yang penuh sayur mayur di sisi kanan jalan. Sebuah terpal biru telah terbentang di atas jembatan kali kecil yang menghubungkan Gunung anyar Lor dengan Gunung Anyar Tengah. Dalam sekejap sayur mayur telah tersusun di atas terpal biru itu. Menjadi semacam miniatur kebun sayur yang tak perlu berpeluh untuk menanam, merawat dan memanennya.

Beberapa ibu muda sudah mulai mengerumuni gelaran dagangan lelaki paruh baya itu. Cak Kuat namanya. Sebenarnya tak hanya ia yang mengais riski di perempatan Gunung Anyar setiap pagi. Ada juga beberapa pedagang lain yang mangkal di sana.

Tapi Cak Kuat begitu istimewa. Setiap pagi kehadirannya ditunggu para wanita. Jika ia tak datang banyak hati harus menangis duka. Ia adalah penjual sayur yang terkenal ramah, tidak mudah tersinggung dan yang lebih penting lagi harga sayuran yang ia jual begitu murah. Jauh dari harga para pedagang lain. Barang bawaannya juga selalu fresh karena selalu habis. Sehingga tak ada barang sisa.

Cak Kuat duduk di pinggir terpal yang tepat berada di bibir kali kecil itu. Badannya  disandarkan ke bantaran kali yang disemen. Aroma busuk menyeruak dari kali. Musim panas begini, air kali menjadi keruh, hitam layaknya comberan. Maklumlah… air sisa pembuangan kotoran rumah tangga dari berbagai arah bermuara di sana. Sayangnya, tingkat kesadaran masyarakan sangat minim. Tak sedikit orang yang malah membuang sampah di kali.

Yang lebih menyedihkan, ibu-ibu membuang pampers bayi kotor di kali, bersama eek dan kotoran. Ih… menjijikan sekali. Katanya biar adem sehingga pantat bayi tak iritasi. Mitos turun temurun yang menyesatkan. Mereka mungkin tidak tahu bahwa sebagian besar pampers tak dapat didaur ulang. Bahkan hingga ratusan tahun kedepan. Walhasil, kali-kali berhenti mengalir terhalang sampah yang membusuk. Tersumbat sampah yang tak terdaur oleh mikroba macam kresek dan pempers. Jika musim panas, bau busuk menyeruak. Jika musim hujan, banjir menggenang. 

Mestinya memang harus ada penyadaran. Yang masif dikampanyekan oleh pemerintah. Juga di tegakkan aturan, yang tegas menindak siapapun yang melanggar.

TIDAK BOLEH MEMBUANG SAMPAH DI KALI! Lucunya, justru orang-orang berbondong membuang sampah di kali dengan peringatan ini. Sama saja, orang tetap hoby  merokok meski terpampang jelas di space iklan bahwa MEROKOK MEMBUNUHMU!

Suara ibu-ibu riuh rendah. Minta disegerakan. Tangan-tangan teracung ingin segera dapat giliran dihitung. Beberapa ibu-ibu mengomel sebab menurut masing-masing patut mendapat giliran pertama. Cak Kuat yang seorang diri di kerumuni ibu-ibu sepagi buta begini, pamornya bahkan mengalahkan artis di layar kaca yang juga dikerubuti pemburu berita.

Tiara terpaku menatap keriuhan itu. namun ia segera berrtindak. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain mengumpulkan sayuran yang akan ia beli. Setumpuk wortel, sebungkul brokoli, sebungkus kentang, 3buah sawi pok coy, sesisir pisang susu, 2 ons daging yang terbungkus plastik. Setelah semua terkumpul. Ia berjongkok diam tepat di hadapan Cak Kuat. Padangannya menoleh ke kanan dan ke kiri.

“Andai saja Cak Kuat menggunakan nomor antrian, sebagaimana yang lazim di pakai tempat praktek dokter, terus ada kasirnya, jadi nggak ditangani sendiri, pasti kondisinya nggak rieweh macam sekarang” batinya menyarankan. ia tetap berjongkok menunggu giliran ditengah antrian panjang.

“Opo maneh, Ning…”* Suara Cak Kuat membuyarkan lamunan Tiara. Suasana memang sudah agak lengang. Hanya tinggal 4 orang ibu-ibu termasuk Tiara. Dan giliran Tiara akhirnya datang juga.

“Cabe campur 2000, tomat seribu, bawang daun dan seledry seribu” sahut Tiara.

“Coba pak de pake no antrian gitu lho, biar ibu-ibu nggak rebutan bayar. Trus pake asisten jadi kan nggak repot” Tiara mengusulkan.

“Hufff… siapa yang mau menggaji, Ning… wong ini saja cuma cukup buat makan sehari-hari” Cak Kuat menarik nafas panjang. Seolah ada beban hidup yang memberatinya. Suaranya terdengar pesimis.

“Lho kan pelanggan pak de sudah banyak…” Tiara menimpali. Ia memang memanggil Cak Kuat dengan Pak de. Usia Cak Kuat yang sudah paruh baya, mungkin seusia papanya menjadikan ia memanggil Cak Kuat dengan sebutan Pak De. Menurutnya kurang sopan memanggil langsung dengan sebutan Cak Kuat.

“Tapikan tipis, Ning… ndak nutut…” lagi-lagi ia menghela nafas.

“Berapa pak de semuanya…”

“33.000” Tiara menyodorkan selembar 50.000 an kepada Cak kuat.

“Ini, kembalinya Ning…” Tiara menerima 8lembar pecahan 2000an dan selembar seribuan. Ia kembali menyodorkan seribuan ke cak Kuat.

“Tambah daun salam sama daun jeruk seribu, Pak De…”

“Wes Ra usah, tak kasih aja!”

“Ntar rugi lho pak de…”

“Wes, ndak popo. Doakan saja, rizki saya berkah Ning…”

“Matur suwun, Pak de…” Tiara mengamit barang belanjaannya, dan segera beranjak. Ia menyusuri Kali kumuh itu. berbelok ke kanan. Pandangannya tertuju pada deretan kamar kos yang memanjang dan bertingkat di sisi kiri jalan. Puluhan orang sibuk di kos-kosan, ada yang mencuci, ada yang memandikan anak, ada yang memasak, ada yang sedang membersihkan gerobak jualan.

Masya Allah… betapa tidak adilnya hidup di kota, berpuluh keluarga berdesak-desakan tinggal di kos-kosan yang jauh dari sebutan rumah idaman” Tiara menarik nafas perlahan. Diam-diam ia begitu mensyukuri kehidupannya. Menikah, punya anak, tinggal di perumahan meski kelabakan dengan seabreg pekerjaan rumah.

“Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang akan engkau dustakan…” gumamnya. Tiara terus berjalan menyusuri jalan setapak. Lantunan asmaul-husna terdengar lirih Tiara dendangkan sepanjang perjalanan pulang.

Setiba di depan rumah, sebuah motor elektrik telah terparkir di garasi rumah. Motor yang tak asing lagi. Motor ibu dan bapak mertuanya…

Bersambung…

Related

Menulis 178305462711501368

Post a Comment

emo-but-icon

Tulisan Unggulan

Sebulan Bisa Hafal Satu Juz?

Hafalan Al-Qur'an Yuuuk Saya memulai jadwal tahfidz harian ba'da shubuh. Saat suasana masih sangat tenang, Goma masih lelap ...

Catatan Terbaru

item