Hutang Pertama

Hutang Pertama

Ilustrasi Utang
Ilustrasi Utang
Ini adalah kelanjutan kisah berjudul Orang Miskin Dilarang Sakit. Selamat membaca, mohon masukan atau kritikan untuk kisah-kisah saya. have a nice blogging.
* * *
Telah berlalu satu jam tanpa ada kepastian. Berkas-berkas administrasi masih di genggaman petugas. Tak akan bisa pulang sebelum semuanya terbayarkan.

Seorang petugas datang. Membuyarkan pikiran yang tengah menerawang.

“Maaf pak, pembayaran maksimal jam 9 pagi ini”

“I-iya Mas, sebentar lagi…” Ardy memilah-milah nomor kontak di ponselnya.

“Ahaa… Bang Togar! Semoga ia bisa membantu…” gumamnya lirih.

“Gimana operasinya?”

“Lancar, Bang… Alhamdulillah”

“Baguslah… sudah seminggu kau tak masuk kerja. Semoga segera bisa masuk lagi” logat medan Bang Togar tak juga berubah meski sudah 4 tahun di Surabaya.

“Kapan pulang?”

“Hari ini, Bang…” Hening “Hm… Punya dana cadangan nggak, Bang. Aku lagi butuh dana untuk menggenapi biaya operasi?”

“Lho… bukannya, ditanggung pihak asuransi?”

“Nggak, Bang… aku gak ikut bayar premi asuransi. Akad asuransi dalam islam itu fasid (rusak) Bang. Jadi Asuransi itu batal, tidak diterima dalam Islam”

“Bah! Kau ini memang terlalu fanatik dengan agama. Kalau sudah begini, susah sendiri jadinya hidup kau! Berapa kau butuh dana?”

“6 juta, Bang…”

“Sorry Ardy… Aku tak bisa bantu kau kali ini. Tabunganku tak sampai segitu. Lagipula istriku akhir bulan ini prediksi melahirkan. Sorry Ardy…”

“Tak apa, Bang… mungkin Bang Togar ada rekomendasi ke siapa kira-kira yang bisa kupinjami?”

“E-eee coba kau telfon Pak Roni, supervisor personalia”

“Baik Bang, akan kucoba. Thanks atas infonya, Bang…”

Ardy menatap Tiara. Menggeleng. Menghela nafas. Menunduk mematut kakinya yang digips. Memainkan ponselnya ragu-ragu. Menghubungi Pak Roni sama saja menjilat ludah sendiri. Dulu, saat ia diterima kerja di perusahaan itu, Pak Roni berdebat panjang soal premi asuransi dengannya. Meski akhirnya sepakat khusus untuk Ardy ia di bolehkan untuk tidak membayar premi asuransi.

Namun kompensasinya, tak ada jaminan apapun atas Ardy dan keluarganya jika terjadi kecelakaan atau kematian. Tak ada. Meski begitu, sikap pak Roni pada Ardy tak berubah padanya. Sebagaimana karyawan pada umumnya.

Jika Ardy menyampaikan itu ke pak Roni, sama hal nya ia terbukti bodoh dengan argumennya selama ini. Bukankah Pak Roni akan memandang rendah dirinya. Ah, peduli amat dengan pandangan manusia. Bukankah, mulia tidaknya manusia tergantung ketakwaannya.

Barangkali saja apa yang direkomendasikan Bang Togar benar. Pak Rony memang terkenal dermawan. Suka membantu. Ayolah Ardy segeralah hubungi dia. Waktumu sebentar lagi.

“Hallo, Pak Roni”

“Ya, Ardy… apa kabarmu… sorry saya belum sempat menjenguk ke rumah sakit. Ini masih di Makassar”

“Nggak apa-apa, Pak... Begini Pak Roni, saya sedang butuh bantuan…”

“Ya, apa yang bisa saya bantu Ar…”

“Hari ini saya sudah bisa pulang dari rumah sakit, tapi saya membutuhkan dana untuk menggenapi biaya operasinya, Pak…”

“Hahaha…” Tertawa agak mengejek.

“Sudah kubilang kapan hari itu. Kamu jangan terlalu-terlalu amat lah sama aturan agama. Coba kalau tempo hari itu kamu mau bayar premi asuransi. Kan jadinya nggak begini Ardy. Oke… oke… karena saya sedang di Makassar, kamu langsung hubungi Pak Yanto. Kepala bagian koperasi karyawan. Nanti saya telfon beliau. Dananya langsung ditransfer. Berapa butuhnya?”

“Hm… maksud saya begini pak, saya mau pinjam dana pribadi Pak Roni bukan lewat koperasi karyawan..” Suara Ardy mengambang.

“Lho, kenapa? Bunganya sedikit kok. Kalau tidak salah cuma 0,5% perbulan. Bisa dipotong gaji selama 10bulan”

“I-iya pak, tapi saya nggak mau ambil yang haram pak, pinjaman berbunga seperti itu namanya riba. Haram mengambilnya”

“Halaaaah… Ardy… Ardy… kamu ini tak berubah-berubah. Sudah susah juga masih ngotot. Mana ada zaman sekarang pinjaman tak berbunga. Sukur-sukur bungannya ringan sekali untuk karyawan perusahaan kita.”

“Berapa kamu butuh dana?”

“6 juta, Pak…”

“Sorry Ardy, saya nggak bisa bantu. Tadi malam saya baru bayar transaksi beli rumah di Makassar. 375 juta. Sementara cadangan dana kelurga sedang kosong. Sudahlah… ke koperasi karyawan saja… Sedikit-sedikit haram kan ya nggak apa-apa, Ar… ”

“Maaf pak, saya nggak bisa… seringan-ringannya dosa orang yang makan riba seperti berzina dengan ibu kandungnya sendiri, Pak…” Pak Roni gusar mendengar alibi Ardy.

"Terserah kamulah, Ar..."

“Baiklah Pak, terimakasih atas rekomendasinya”


Ardy kembali melepas pandangan ke jendela. Hampa. Jam sudah menunjukkan pukul 07.57. Tiara mendekati Ardy, duduk di atas bangsal yang telah di bereskan.

“Gimana, Bi?” Ardy menggeleng.

“Bang Togar ada tabungan tapi itu untuk persiapan istrinya melahirkan. Lagipula jumlah tabungannya juga tak mencapai dana yang kita butuhkan. Dia rekomendasikan pak Roni…”

“Terus…?”

“Pak Roni menyarankan untuk ambil uang di koperasi perusahaan. Langsung cair atas rekomendasinya. Tapi… mana mungkin kita makan harta haram itu!”

“Abi benar…” Tiara menunduk.

“Sesulit apapun keadaan kita, pantang untuk mengambil yang haram. Pasti ada jalan keluar yang lain, Bi…”

“Ini jalan terakhir, bicara ke ibu! biarlah dimarahi, biarlah berdebat panjang, biarlah disalahkan… bukankah kondisi itu justru menjadi momen untuk menjelaskan kebenaran?” Ardy menatap Tiara dalam-dalam. Tiara mengangguk.

“Abi Benar…” meski hati Tiara kebat-kebit.


*****


Bu Prapti menggendong Haidar. Bersiap masuk taxi untuk menjemput Ardy di rumah sakit. Terburu mengunci pintu. Nenek 2 cucu ini dibuat seperti ibu muda sejak 4 hari Ardy di rumah sakit. Ya, Haidar langsung di jemput dari rumah ustadzah Fadhilah setelah bu Prapti pulang dari rumah sakit di hari pertama. Pak Bahar sudah bersiap di depan taxi.  Ponselnya berdering. Foto Haidar di gendong Ardy muncul di layar ponsel.

“Bu… Ardy nelfon…”

“Diangkat pok-o paaak… ini lho repot!”  Salam berbalas salam. Ardy segera membuka pembicaraan.

“Pak… dana kami tidak cukup untuk bayar biaya rumah sakit. Masih kurang 6 juta lagi. Minta tolong dipinjami dulu nggeh pak…”

“O, iya nanti bapak mampir ATM. Sebentar lagi kami berangkat…”

Matur suwun, Pak…”

Kali ini senyum Ardy mengembang. Ternyata urusannya begitu mudah dengan orang tuanya. Kenapa selama ini ia berfikiran buruk pada bapak-ibunya.

“Gimana, Bi…”

“Alhamdulillah… langsung di ACC sama bapak. Nanti kekurangannya di bawa bapak sekalian jemput kita”

“Alhamdulillah… gimana nanti jelasin ke ibu, Bi…”

“Sudahlah kita husnudzon (berbaik sangka) saja, insya Allah ada jalan”

Taxi biru itu telah meluncur menyusuri jalanan utama Kertajaya. melintasi hiruk pikuk keramaian kota. Sempat terjebak kemacetan sebagaimana biasanya. Pohon hijau tinggi menjulang di sepanjang jalan. Daunnya melambai-lambai meniupkan kesegaran. Hutan-hutan kota tersebar disana-sini. Taman-taman asri menjadi panorama tersendiri di kota pahlawan ini. Kota yang hijau.

Upsss... Itu di tengah kota. Agak kepinggir. Suasana gersang, tandus dan panas akan kita jumpai. Kontras memang. Pembangunan yang masih timpang.

“Mampir ke ATM ya, Pak…” Pak Bahar memeri aba-aba belok kanan.

“Lho, ngapain to pak. Uang untuk bayar taxi kan sudah cukup. Ini lho sudah ibu siapkan…” protes bu Prapti sembari membenahi posisi dot Haidar.

“Mau ambil uang 6 juta. Ardy butuh uang untuk melengkapi biaya rumah sakit…” jawab pak Bahar santai.

“Lho… lho.. lho.. bukannya biaya pengobatan ditanggung perusahaan, gimana to…”

“Sudahlah bu… sama anak sendiri kok yo pritungan!” Bu Prapti manyun.

Bersambung…

Related

Menulis 3690312698484488612

Post a Comment

emo-but-icon

Tulisan Unggulan

Sebulan Bisa Hafal Satu Juz?

Hafalan Al-Qur'an Yuuuk Saya memulai jadwal tahfidz harian ba'da shubuh. Saat suasana masih sangat tenang, Goma masih lelap ...

Catatan Terbaru

item