Cara Cepat Lunas Hutang (Bagian 2)

Cara Cepat Lunas Hutang (Bagian 2)

Ini adalah kelanjutan dari artikel Cara Cepat Lunas Hutang . Jika anda belum membaca artikel sebelumnya, membaca artikel ini adalah sebuah...

Ini adalah kelanjutan dari artikel Cara Cepat Lunas Hutang. Jika anda belum membaca artikel sebelumnya, membaca artikel ini adalah sebuah kesia-siaan. Berbaliklah ke belakang. Mulai dari awal dulu ya, agar komplit ceritanya. Bagi anda yang sudah membaca artikel terdahulu, semoga kelanjutan ini menjadikan rasa penasaran anda terbayarkan. Selamat menikmati...

*****

Hingga ide itu muncul. Yap, ide kreatif menurutku. Karena waktu itu belum ada yang melakukannya. Ide ini terinspirasi dari seorang teman. Bu Dewi namanya. Beliau menawari kami arisan jati. Bu Dewi biasa mengumpulkan 10 orang untuk disertakan dalam arisan kursi ukiran jati.

Harga satu set kursi/dipan/lemari jati itu berkisar antara 1.5 juta hingga 2 juta rupiah. Tiap anggota menyetorkan dana sekitar Rp.200.000 /bulan dan akan dikocok siapakah yang beruntung pada bulan tersebut. Orang yang beruntung tersebut boleh memilih apa yang ia kehendaki dari barang-barang yang ditawarkan, jika dana yang terkumpul melebihi angsuran arisan, maka peserta yang beruntung tadi menambahkan lagi kekurangannya. Namun, jika harga barang ternyata dibawah uang iuran, maka uang sisa akan dikembalikan pada orang tersebut.

Nah, dari jasanya mengkoordinir arisan tersebut, bu Dewi mendapat 1 set kursi/dipan/almari dari pemilik usaha jati ukir itu tiap satu kloter.

Saya jadi berfikir kenapa saya tidak melakukan hal yang sama untuk barang yang berbeda. Misalnya untuk buku. Selama ini saya dan suami semasa lajang memang terkenal sebagai penjual buku. Buku-buku rujukan ke-islaman.

Setelah saya survey, ternyata sebagian besar teman-teman kami belum memiliki buku rujukan penting yaitu kitab tafsir ibnu katsir dan juga kitab fiqh Sayyid sabiq. Kendalanya adalah harga yang tak terjangkau. Kitab tafsir Ibnu Katsir harganya sebesar Rp. 1.500.000 dan kitab fiqh Rp. 375.000.

Ide ini saya diskusikan dengan suami. Otak bisnis kami bermain. Kami sepakat memulai bisnis arisan kitab tafsir dan kitab fiqh. Kami tidak menaikkan harga. Juga tidak memungut biaya atas upaya kami membantu teman-teman mendapatkan dua kitab klasik tersebut. Kami hanya berharap besaran potongan yang kelak diberikan pihak penerbit.

Saya kemudian menyusun sms promosi dengan kalimat yang memikat. Pengalaman berbisnis telah menempa habbit promosi yang bagus. Tidak memaksa namun membuat orang yang membaca tertarik sukarela. hehe... Setelah mendapat restu dari suami soal konten yang ingin ditawarkan, saya menyebarkan info arisan tersebut ke seluruh no kontak di phone book saya dan no kontak phone book suami.

Sementara suami saya membuat surat kerjasama untuk diajukan kepada penerbit dua buku tersebut. Agar bisa mendapatkan diskon yang besar (Biasanya kisaran diskon dari penerbit bisa mencapai 40%). Kemampuan beliau mengolah kata memang tak diragukan. Selain berbisnis, kuliah, ia juga menjabat sebagai pimpinan redaksi buletin remaja di kota ruwa jughai tersebut. Keahliannya bertutur lewat tulisan dan lisanlah yang membawa saya mengajaknya ke bahtera pernikahan. ciyeee...

Subhanallah… kerjasama pertama saya dengan seorang lelaki di ranah privat. Memang menikah itu memberi berkah ya... Mungkin hal seperti ini, tak kan terpikir kalau saya masih sendiri.

Terkumpullah 2 kelompok besar arisan tafsir dengan anggota 18 orang/kelompok. Total anggota arisan tafsir 36 orang. Dan 3 kelompok arisan kitab fiqh sayyid sabiq dengan anggota 10 orang/kelompok. Total anggota arisan kitab fiqh 30 orang.

Artinya  kami akan rutin menjual 36 kitab tafsir @Rp. 1.500.000 = Rp. 54.000.000. Profit penjualan ini adalah 40% dari total harga jual yaitu Rp.54.000.000 x  40% = Rp. 21.600.000.Arisan Tafsir kami jalankan selama 18 bulan atau setahun setengah.

Sementara 30 kitab fiqh sayyid sabbiq @Rp.375.000 =  Rp. 11.250.000 dengan profit penjualan kitab ini adalah 25% dari total harga jual yaitu Rp.11.250.000 x 25% = Rp. 2.812.500. Arisan Kitab Fiqh sayyid sabiq kami jalankan selama 10 bulan.

Akumulasi keuntungan itulah yang kami pakai untuk membayar sebagian hutang-hutang kami yang paling mendesak untuk dibayarkan. Diangsur tiap bulan. Bersyukur karena orang-orang yang kami hutangi berkenan menerima pembayaran hutang dengan sistem angsuran. Sehingga sedikit demi sedikit lama-lama lunas sudah hutang kami. Meski masih bersisa.

Terimakasih buat wak Ade kumalasari, Mak Ngah, Mba Alya, Mba Sri, Bu Endang, Teh Ai dan semua orang yang membantu saya dalam pelunasan hutang pertama tersebut. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua dengan pahala yang berlipat ganda.

Setelah gelombang pertama arisan tafsir itu kami jalankan, kami membuat lagi 1 kelompok arisan tafsir dan 1 kelompok arisan fiqh.

Kepercayaan teman-teman kepada kami sungguh sangat berarti. Dua tahun setelah menikah nominal hutang 40 juta nyaris terpecahkan. Sudah terbayar sekitar 32 juta. Kami sungguh bersyukur dengan karunia ini.

Saya ceritakan ini barangkali bisa menginspirasi yang sedang dalam kondisi sama seperti kami waktu itu, punya hutang menjulang.

Untuk kebutuhan sehari-hari, suami saya mengajar tajwid secara personal ataupun kelompok. Sayapun ikut membuka kelas bahasa arab berbayar. Selain itu, kami juga menjual aneka herbal. Bersyukur pula selama dua tahun menikah tak sepeserpun membayar biaya sewa rumah. Selalu ada rizki tempat tinggal untuk kami, Subhanallah…

Sisa hutang kami waktu itu tinggal sekitar 8 jutaan. Itupun tak mendesak dibayarkan. karena tak ditagih kami jadi agak nyantai. Nominal 8 juta itu tak kunjung diangsur karena merasa yang memberi hutang tak membutuhkan. Belakangan kami baru tahu, bahwa menagih hutang adalah salah satu cara membantu seseorang agar cepat lunas hutang.

Kami sudah bisa bernafas lega. Sudah bisa mengontrak rumah sendiri. Menjelang kelahiran anak pertama—Naufa Shaliha, bisnis buku sudah mulai stagnan. Justru yang sedang naik daun adalah bisnis herbal.

Waktu itu, relasi kami sudah begitu luas. Hingga kalau bicara herbal, mesti merujuk ke kami.  Akhirnya kami nekat lagi untuk kesekian kali berniaga herbal dengan modal murobahah (Jual beli kredit).

Tidak tanggung-tanggung. Kali ini total hutang kami mencapai Rp. 50 juta rupiah. Kami fikir toh ini bukan hutang konsumtif. Ini adalah hutang produktif untuk usaha. Jadilah kami memberanikan diri melakoninya.

Sayang sekali, prediksi kami keliru. Barang banyak menumpuk di gudang. Tak laku karna harga produk yang menjulang. Akhirnya, kami lelang herbal tersebut di bawah harga dasar. Soalnya kuatir kadaluarsa.

Setahun bisnis herbal. Dari modal hutang 50 juta itu, kami hanya bisa membayar 40 juta. Yang 10 juta diundurkan hingga lama sekali. sebab di jual dengan harga di bawah modallah kami menanggung kerugian. Kerugian itu sejumlah 10 juta. Di tangguhkan hingga 4 tahun berikutnya. Weleh… kayak nggak ada kapoknya dikejar-kejar hutang. Sudah lepas dari lubang buaya masuk ke sarang singa. Hm…

Setelah anak pertama lahir, kami memutuskan untuk hijrah. Jauh. Ke kota pahlawan. Berharap ada perubahan nasib. Hidup di perantauan itu berbeda 180 derajat dengan apa yang kami bayangkan. Tak banyak relasi yang kami miliki, menjadikn kami memulai lagi dari nol kehidupan bisnis kami.

Setahun di Surabaya, hidup ala kadarnya bergantung dari hutang ke hutang. Sampai saya malu dengan keluarga, karena merasa gagal. Bolak-balik minta dikirim dana juga dari pihak mertua. Ah… rasanya ingin tamat saja. 

Ketika saya mengandung anak kedua, bisnis baru kami jalani, masih seputar herbal. Namun kali ini, kami berhubungan langsung dengan produsen dan wilayah pasar yang cukup luas. Seluruh Indonesia. Omset penjualan kami sudah mulai meningkat pesat. Berkah anak kedua.

Sayangnya,  standar hidup juga perlahan meningkat setahap demi setahap. Tanpa disadari gaya hidup berganti. Yang tadinya hidup seadanya, jadi agak berlebihan saat belanja. Management keuangan yang amburadul. Bercampur antara keuangan pribadi dengan keuangan usaha. Belanja gadget yang mestinya belum dibutuhkan.

Di bulan berikutnya. Kami malah sibuk ngotak-atik gadget. Jadi deh, kurang optimal di target pencapaian penjualan. Terlena dengan kehidupan nyaman, bahkan seolah lupa masih punya tanggungan hutang di tanah seberang.

Hingga sesuatu mengagetkan kami. Ada konsumen kami di luar pulau mangkir dari membayar tagihan, jumlahnya cukup besar. Dan itu baru kami sadari setelah no ponselnya sama sekali tak dapat dihubungi.

Tentang musibah (atau teguran ya?) itu kami banyak berdiskusi. Saya yang paling nggak terima costumer itu mengkhianati kepercayaan kami. Tapi kata suami, Sudahlah direlakan saja. Cobalah berempati.

Kejadian ini menjadikan kami berpikir ganti posisi. Berganti ada pada posisi yang memberi hutang ke orang lain. Wah sungguh tidak enak sekali dikibuli seperti ini. Terbayanglah oleh kami wajah orang-orang yang menghutangi kami. Ada rasa bersalah. Kenapa tak kita cicil sedikit demi sedikit hutang-hutang kita, sehingga tak memberatkan. Sebagaimana kita mencicil hutang 40 juta itu di awal pernikahan? kenapa kita seolah enggan melunasi hutang yang telah jadi kewajiban?

Musibah yang lain datang. Karena sudah saling percaya antara kami dan perusahaan supplier, akhirnya tak ada lagi mekanisme yang jelas antara kami. Nota-nota penjualan tak terkirim. Transfer dana ke perusahaan yang tak terbukukan. Juga catatan keuangan yang nyaris tak ada. Sulit mengukur berapa besaran profit tiga bulan terakhir. Hingga ternyata tagihan ke produsen sudah cukup banyak. 16 juta bukan angka yang sedikit bukan?

Kami lagi-lagi seperti keledai. Jatuh pada lubang yang sama berkali-kali. Padahal tanggungan hutang sebelumnya pun belum lagi terurai. 8 juta + 10 juta + 16 juta total hutang 34 juta belum lagi hutang-hutang kecil ke keluarga. Masya Allah…

Menjelang kelahiran anak kedua, kami semakin pusing. Rumah kontrakan yang sudah habis masa sewanya, biaya persalinan yang belum ada karena di pinjam sama teman belum dikembalikan. Orang-orang yang mulai menagih karena hutang sudah terlalu lama. Allah… sungguh sempit sekali dunia. Mau lari kemana saat sudah sempit seperti ini? Kenapa saat lapang yang lalu tak menyelesaikan semua tanggung jawab?

bersambung ke Kiat Cepat Lunas Hutang

Related

Bisnis 1313805512575031466

Post a Comment

emo-but-icon

Tulisan Unggulan

Sebulan Bisa Hafal Satu Juz?

Hafalan Al-Qur'an Yuuuk Saya memulai jadwal tahfidz harian ba'da shubuh. Saat suasana masih sangat tenang, Goma masih lelap ...

Catatan Terbaru

item