Melahirkan Normal

Melahirkan Normal

Melahirkan Normal

Saat Naura Bydzani lahir ke Dunia
Melahirkan, adalah salah satu kodratnya wanita. Kecuali buat siapa yang tak bisa hamil. Kalau di Barat, melahirkan menjadi momok tersendiri buat mereka. Karenanya, tak heran jika pemerintah setempat kelimpungan dengan pertumbuhan penduduk yang menurun drastis. Dan Barat terancam punah karena kaum wanita disana enggan melahirkan dan enggan menjadi ibu. Di negara-negara maju, penduduknya tidak mau berkeluarga dalam bingkai pernikahan. Karena mereka berpendapat bahwa pernikahan adalah awal keruwetan.

Melahirkan adalah hal normal yang telah dijalani wanita sepanjang zaman. Sejak zaman nabi Adam hingga hari kiamat kelak, akan sama seperti itu. Hal ini telah dirancang Allah untuk melestarikan jenis keturunan manusia. Sebagaimana lazim juga untuk spesies lain di dunia. Kalau tidak begitu kepunahan manusia tinggal tunggu saatnya, the lost generation.

Sayang sekali, ketika ilmu kedokteran semakin canggih, wanita yang melahirkan normal dapat dihitung dengan jari. Lihat saja, dari beberapa penelitian di Indonesia 8 dari 10 orang ibu hamil, melahirkan dengan operasi caesar. Selain karena anjuran dari dokter kandungan yang menjadi konsultan semasa kehamilan, juga karena takut menanggung rasa sakit dan takut area sensitifnya rusak setelah turun mesin.

Sejak awal kehamilan, aku memilih untuk bisa melahirkan normal bukan caesar. Bukan semata karena biaya caesar yang relatif mahal, minimal dibutuhkan 4 jutaan untuk kelas paling standar hingga puluhan juta untuk pelayanan yang prima, namun juga karena keterbatasan jumlah anak jika melahirkan caesar. Kata seorang teman yang pernah caesar, “Maksimal 3 orang saja dek, kalau lahir caesar”. Belum lagi ketika proses pemulihan  yang butuh waktu lebih lama. Hm... lebih aman melahirkan normal.

Ketika proses melahirkan Naufa, anak pertamaku: prosesnya sungguh sangat panjang. Naufa lahir 10 hari setelah meleset mundur dari prediksi HPL (hari perkiraan lahir). Karena anak pertama, aku mudah sekali panik dan senewen. Hari jumát pagi aku merasa tanda-tanda melahirkan itu telah hadir. Benar saja, setelah periksa ke bidan ternyata sudah pembukaan 1. Kontraksi itu kulalui panjang. Setiap sepuluh menit sekali ia datang dengan durasi 30 detik. Berdasarkan buku yang aku baca, pembukaan sempurna (1-10) untuk kelahiran pertama akan memakan waktu cukup lama. Sekitar 12 – 20 jam. Masya Allah...

Namun frekuensi kedatangannya yang cukup lama dan rasa sakit yang belum seberapa, menjadikan aku masih bisa berjalan kaki 2km. Aku memang membiasakan berjalan kaki sejak kehamilanku berusia tujuh bulan. Kata orang tua, jalan kaki akan memudahkan proses persalinan dan pendapat ini mendapat legitimasi dari dunia kedokteran. Setiap hari, kuluangkan waktu di pagi hari setelah shalat shubuh, berjalan kaki selama 1 jam dengan jarak sekitar 3km.

Aneh menurutku, Jum'at pagi pembukaan 1 hingga sabtu malam pembukaan itu tidak beranjak dari angka 1. Bahkan sabtu siang aku masih berjalan-jalan ke perpustakaan daerah kota Bandar Lampung bersama suamiku. Sepulang dari PERPUSDA, kuputuskan untuk cek USG ke dokter kandungan.  Mau memastikan bahwa bayiku baik-baik saja. Ternyata... air ketuban sudah kering. Mungkin ada perembesan. Jika sampai besok pagi tidak terjadi peningkatan kontraksi dan bukaan, maka akan diambil tindakan caesar untuk menyelamatkan bayiku. Deg! Ya Allah...

Dokter memberiku resep obat yang wajib diminum. Terakhir ku ketahui bahwa obat tersebut adalah obat perangsang kontraksi. Pukul 21.00 malam minggu ibuku datang ke rumah kami, katanya beliau ada firasat bahwa aku akan segera melahirkan. Disana juga ada ibu mertuaku yang sejak sebulan yang lalu datang dari Kerinci-Jambi khusus untuk menyambut kelahiran cucunya. Senangnya, ada dua wanita mulia disisiku saat menegangkan seperti ini.

Pukul 21.30, sebagaimana anjuran dokter, aku meminum ¼ dari pil yang teramat kecil itu, entah apa namanya aku lupa. 15 menit setelahnya, Subhanallah... kontraksinya meningkat drastis. Aku sampai meringis merasakannya. Bersegera kami berangkat ke rumah bersalin Betik Hati bidan Jami’ah di daerah Pajajaran,  Way Halim-Bandar Lampung.

Setelah dicek perawat, ternyata masih tetap keukeuh bukaan satu. Haaaaa? Aku terbengong saja mendengarnya, rasanya sudah sesakit ini, tapi masih bukaan satu. Allahu Rabbiy... malam itu, kulalui tanpa tidur dengan kontraksi yang semakin meningkat. Saat adzan shubuh berkumandang, aku bergegas mandi dan shalat shubuh, setelah itu diperiksa lagi oleh perawat kemajuan kontraksiku.

 “Baru bukaan tiga bu...?”

“Masya Allah... sungguh ku kira sudah bukaan 9 mbak...”

Setelah sarapan, kuminum lagi obat dari dokter, kali ini ¼ bagian kedua. Allahu Rabbiy... 10 menit setelah minum obat tersebut, rasa sakit kontrasi itu sungguh tak tertahankan. Ku cengkram kuat-kuat pundak suamiku. Kutarik nafas dalam-dalam, untuk mengurangi  rasa sakitnya. Ya Allah... serasa aku mau mati saja. Karena tak tahan aku minta diperiksa lagi oleh perawat, barangkali pembukaan sudah sempurna. Ternyata baru bukaan 6. Saat itu jam menunjukkan pukul 07.00 hari ahad pagi. Prediksi bidan, jam 10 baru lahir.

Menunggu jam 10.00 serasa begitu lamanya. Detik demi detik rasanya berjalan tertatih. Lamaaaaa sekali. Sampai rasa itu tak tertahankan lagi, dan membuatku tak sanggup berdiri. Padahal jam baru menunjukkan pukul 08.00. Para perawat segera membawaku ke ruang bersalin, dan subhanallah pembukaan telah sempurna. Aku diminta untuk menarik nafas dalam-dalam dan mengambil ancang-ancang untuk mengejan.

Mengeluarkan kepala bayi rupanya tak semudah yang aku bayangkan. Ya Allah... kalaulah aku harus mati saat ini maka jadikanlah kematianku husnul khotimah, bisik ku dalam hati. Kugenggam erat-erat tangan suamiku, kupintakan maaf atas semua salah dan khilafku selama mendampinginya.

“ Nda... maafkan adek ya... ridhokan atas apa yang terlewat antara kita".

Ya Allah... aku sungguh mohon ampun atas semua salah dan dosaku. Mudahkanlah proses persalinan ini.

Setelah 2 kali mengejan dengan pengerahan seluruh kekuatan yang ada, akhirnya kepala Naufa keluar dan keluarlah ia secara sempurna. Tangisnya terdengar begitu nyaringnya. Sampai-sampai orang menyangka ia adalah bayi laki-laki.  Alhamdulillah... pengalaman yang tak kan pernah terlupakan. Naufa lahir pada 14 Maret 2010 tepat saat ada aksi damai penolakan kunjungan Barack Obama ke Indonesia.

19 bulan berikutnya, tepatnya pada 26 Oktober 2011, kontraksi yang sama kembali aku jalani. Saat itu, aku tengah mengandung Naura, putri keduaku. Karena jarak yang masih dekat, kupikir prosesnya akan lebih mudah dari yang pertama. Memang sih, durasi pembukaan yang pertama hingga sempurna tak begitu lama.

Pukul 06.00 pagi aku merasakan mulas yang cukup kuat pertanda kontraksi itu datang. Kami segera bergegas ke Bidan Hanik, Penjaringan-Surabaya. Setelah dicek ternyata baru bukaan 2. pembukaan baru sempurna tepat pukul 10.55 cukup singkat bukan. Namun, kenyataannya lain ketika pada fase mengejan. Jika Naufa hanya butuh 2 kali mengejan segera keluar, persalinanku kali ini sungguh sangat mengkhawatirkan. Tepat pembukaan ke sepuluh, air ketuban belum pecah sehingga mengharuskan bidan memecahnya paksa. Sudah hampir 7 kali aku mengejan, tapi tak jua kepala Naura keluar. Aku hampir pingsan karena kehabisan energi. Ku katakan pada suamiku yang selalu menemani persalinanku.

“Ayah... Bunda nggak sanggup lagi... Bunda nggak kuat lagi”

“Ayolah Bunda... Bunda pasti bisa. Ayah yakin, bunda bisa melakukannya. Ayolah sayang... ini bukan semata terkait Bunda, tetapi bayi dalam perut Bunda... mintakan pertolongan Allah agar memberikan daya dan kekuatan...”

Ya Allah... tolonglah hamba,

Sungguh... hamba tak berdaya tanpa kekuatan dari Mu,

Ya Allah... Mudahkanlah Ya Allah...

Bayangan kematian kembali berkelebat di benakku. Bayangan tentang ibuku, mertuaku, tetanggaku, suamiku dan semua dosaku tiba-tiba mengejutkanku.

ya Allah... betapa aku selama ini telah banyak bermaksiat pada-Mu,

Betapa banyaknya dosaku,

Betapa sedikitnya bekalku menujumu.

Anugrahkanlah hamba kesempatan tuk bertaubat dan menyiapkan bekal pulang  ya Allah...

Berulang kali kucoba mengejan, dengan sisa-sisa tenaga, namun sia-sia. Disaat keputus-asaan itu hadir, tiba-tiba aku punya kekuatan yang cukup untuk mengejan sekuat tenaga. Dan, lahirlah Naura ke dunia tepat saat adzah dzuhur berkumandang. Itulah sebabnya ia diberi nama Naura Bydzani (Cahaya yang lahir diantara dua adzan)

Sebenarnya catatan kali ini bukan semata ingin bercerita soal proses persalinanku yang lazim dirasakan oleh perempuan manapun yang pernah melahirkan normal. Aku ingin mengaitkan proses ini dengan proses lahirnya sebuah peradaban, sebuah kebangkitan. Menurutku, proses lahirnya sebuah peradaban mirip dengan proses kehamilan dan persalinan seorang wanita. Namun, karena tulisannya terlalu panjang, jadi silahkan baca artikel kelahiran normal sebuah peradaban saja ya... :) [Bunda Naufa]

Related

Parenting 6600557144405468316

Post a Comment

  1. Sampe menangis aku membacanya... T.T

    ReplyDelete
  2. walaupun menyakitkan, tapi tetep saja dinantikan... hehe. #pengen hamil lagi :)

    ReplyDelete

emo-but-icon

Tulisan Unggulan

Sebulan Bisa Hafal Satu Juz?

Hafalan Al-Qur'an Yuuuk Saya memulai jadwal tahfidz harian ba'da shubuh. Saat suasana masih sangat tenang, Goma masih lelap ...

Catatan Terbaru

item